Malam memang tiada tandingnya, dia membawa bangun mimpi-mimpi tentang sayang yang dibawa hilangnya bintang. Malam juga yang membungkus pijar kejora yang mengerejap di pagi buta, juga manusia malas yang enggan menengok ke atas. Malam adalah layar proyeksi bagiku, makhluk diurnal yang kerap gagal tidur. Yang kantuknya dirampas pena dan aksara.
Malam jugalah yang mengingatkanku kepadamu serta menguatkan badan untuk menulis dan melawan semesta ketakutan. Ketakutan akan terlihat galau dan gagal perkasa. Himpunan bimbingan malam yang putus benderang itulah kekuatan keberanian dari kenangan yang serpihan-serpihannya adalah sakatonik. Memberi semangat dan melawan lupa.
Punahnya bintang karena cahaya kota adalah isu lama, selama itu aku juga hilang sinar mata. Mungkin itu cuma susupan kangen, coba tebak sudah berapa waktu kita seperti Berlin di musim dingin paska perang dunia. Berjalan di lajur masing-masing, memikirkan hidupnya sendiri-sendiri. Hancur karena perang. Terluka dan bimbang.
Ya, aku kangen warna-warnimu yang terang tapi meneduhkan. Seperti kaca patri dalam dinding katedral. Dingin sekaligus hangat. Seram tapi sekaligus damai. Penuh karisma menentramkan.
Menarik buat saya menonton video di atas. Gambaran anak kecil yang polos dan lugu begitu kental, berbeda telak dengan saya yang saat ini mengaku dewasa, setidaknya dari segi usia. Keberanian untuk menyimpan dan ketakutan untuk menyatakan sesungguhnya tipis bedanya, namun sesungguhnya juga cuma punya satu persamaan. Dalam satu kasus kesamaan itu bisa berarti membiarkan cinta hidup di bawah kolong hati, memasung dan mengurung.
Untungnya cinta sebagai perasaan tidak pasif, kadang dia bisa membuncah dan berontak, merontokkan sendi-sendi ketakutan. Ya walaupun hasil coup d’etat, pengkhianatan terhadap logika tidak selalu memanen jawaban yang memuaskan. Harus ada sisi di mana hati siap dilukai, menjadi cacat seketika.
Perlu sejenak menjadi iba, terhadap manusia dalam cermin.
Kisah cinta tentulah tidak selamanya ideal. Tengok saja Romeo dan Juliet, keduanya mati karena cinta, racun menjadi eksekutornya. Atau kisah Saijah dan Adinda racikan Multatuli dalam Max Haveelar, keduanya juga mati, adipati-adipati tanah yang merenggut nyawa sekaligus sayang mereka berdua.
2011. Hidup sudah tidak sesulit zaman penjajahan maupun revolusi industri, namun ternyata tetap saja cinta sulit ditebak.
Oh bukan, bukan… saya nggak lagi meratapi nasib kok. Kasih sayang yang saya terima sehari-harinya cukup melimpah meruah-ruah. ga·laua,ber·ga·lauasibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
Kasih sayang dan cinta saya buat yang suka meratap hujan di malam minggu, yang duduk sendiri ditemani lagu jazz dan blues kesukaan mantan atau gebetan yang terdengar lamat-lamat. Simpati saya buat secangkir kopi yang meringkus dinginnya pikiran yang menerawang kemana-mana. Saya yakin suasana demikian sukses bikin pengen sayat-sayat nadi.
Ah siapalah saya menabur cinta kemana-mana sementara di sisi lain saya fakir dan sarat kepura-puraan.
Pria 18 tahun kelahiran Kebumen yang besar dan tumbuh di Jakarta. Memilih Surabaya sebagai kota sebagai tempat pengasingan sementara. Jatuh cinta pada Solo dan Yogyakarta.
Suka menggambar benci mewarnai. Mengabiskan malam dengan segalon air putih, kertas, dan pena. Artis tidak berbakat.